NTB- Radarjagofakta.web.id, 13 Februari 2026 — Pengukuhan Srikandi Berore di wilayah Desa kelebuh kecamatan Praya Tengah berlangsung meriah sekaligus menyita perhatian masyarakat. Kegiatan tersebut dihadiri berbagai tokoh agama, ribuan jamaah, serta unsur aparat, termasuk perwakilan dari TNI juga Polri yang bertugas di wilayah Praya.
Dan Praya Tengah Nusa Tenggara Barat Acara yang digelar di padepokan milik Tuan Guru Pansek Sanggeng, Desa Kelebuh, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah itu turut dihadiri sejumlah tuan guru dari berbagai kecamatan. Kehadiran jamaah yang mencapai ribuan orang menunjukkan besarnya pengaruh tokoh tersebut di kalangan pengikutnya.
Tuan Guru Pansek Sanggeng diketahui sebagai pemilik padepokan sekaligus guru besar Perguruan Ilmu Leluhur yang telah lama dikenal di kalangan masyarakat. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa ritual yang digelar pada malam hari merupakan bagian dari tradisi spiritual yang diwariskan turun-temurun. Menurutnya, ilmu yang diajarkan mencakup berbagai kemampuan bela diri dan olah batin, mulai dari pencak silat tenaga dalam hingga kemampuan yang diyakini mampu menahan benda keras, api, kaca, hingga senjata tajam.
“Semua ini bukan semata kekuatan manusia, tetapi terjadi atas izin Allah SWT dan melalui proses spiritual yang panjang,” ujarnya di hadapan jamaah. Pantauan wartawan Radar jago fakta.id,di lokasi, para murid perguruan menampilkan demonstrasi kemampuan yang disebut sebagai ilmu leluhur. Sejumlah atraksi memperlihatkan ketahanan fisik terhadap benda tajam dan benturan keras, yang disaksikan langsung masyarakat. Menariknya, salah satu personel dari unsur TNI yang hadir disebut turut mencoba demonstrasi kekebalan terhadap senjata tajam setelah mendapatkan ijazah langsung dari Tuan Guru Pansek Sanggeng.
Sementara itu, pasukan inti perguruan menyatakan bahwa ilmu yang diajarkan bersifat permanen dan hanya dapat diperoleh melalui latihan disiplin serta bimbingan spiritual ketat di padepokan. Peristiwa ini memunculkan beragam tanggapan di tengah masyarakat. Sebagian melihatnya sebagai bagian dari tradisi budaya dan spiritual lokal, sementara lainnya menilai fenomena tersebut sebagai praktik yang masih di perlukan dan memerlukan keyakinan yang kuat Kegiatan pengukuhan dan ritual berlangsung hingga larut malam dengan pengamanan panitia dan pengawasan masyarakat sekitar.AR.NTB














